Sifat kesebelas yang mesti adanya pada Allah Ta’ala adalah as-sama’ (mendengar), as-sama’ merupakan sifat terdahulu yang ada dengan adanya Dzat Allah dan berkaitan dengan semua maujud secara utuh apa adanya, yang keterkaitannya dengan semua itu lain dari keterkaitan ilmu dan bashar-Nya. Kaitan sifat sama’ Allah dengan maujud bukan merupakan kaitan sifat ilmu-Nya dengan maujud, sebagaimana maklum kita saksikan sifat itu pada makhluk.

Kita wajib meyakini bahwa ilmu Allah mustahil tercemari kesamaran, pada semua segi. Dan keberlainan antara kaitan pendengaran-Nya dan kaitan pengetahuan-Nya dengan semua maujud, itu bukan seperti yang kita bayangkan, bahwa kejelasan yang dihasilkan dari penglihatan itu lebih banyak daripada kejelasan dengan ilmu, karena semua sifat Allah Ta’ala sungguh sempurna, mustahil tercemar oleh kesamaran, kekurangan dan tambahan. Apabila sifat Allah tidak sempurna demikian, tentu sifat-sifat-Nya itu serupa dengan sifat-sifat hawadits dan menuntut kebaharuan Dzat-Nya. Padahal sebagaimana telah kami jelaskan bahwa Allah Ta’ala bersifat qadim dan mustahil bersifat huduts.

Maksud ungkapan kami, “…berkaitan dengan semua maujud”, adalah bahwa pendengaran Allah berkaitan dengan semua maujud secara utuh dan menyeluruh, entah maujud itu terdahulu maupun baru, dzat maupun sifat. Dan pendengaran-Nya itu tidak hanya menangkap suara. Berbeda dengan pendengaran kita yang umumnya hanya menangkap suara, meskipun terjadinya perbedaan pendengaran di antara kita juga merupakan hal yang lazim terjadi. Seperti yang terjadi pada Rasulullah saw. yang mendengar kalam Allah Ta’ala yang qadim. Tidak diragukan bahwa kalam Allah Ta’ala yang didengar Rasulullah saw. itu bukan suara.

Allah Ta’ala mesti bersifat sama’, dan mustahil Dia bersifat kebalikannya, yakni al-shamam (tuli). Dalilnya menurut akal, setiap yang hidup pasti punya salah satu dari dua sifat berlawanan tersebut, mendengar atau tuli. Dan jika Allah disifati dengan sifat tuli, itu sungguh merupakan kekurangan dalam hak-Nya. Karena itu Allah Ta’ala mesti bersifat mendengar, karena mendengar merupakan sifat kesempurnaan dalam hak Allah Ta’ala.

Ada banyak dalil naqli yang menunjukkan kemestian Allah Ta’ala bersifat mendengar dan mustahil tuli. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala, “(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat [QS. Asy-Syura 42:11].”

Allah Ta’ala berfirman, “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat [QS. Thaha 20:46].”

Di dalam kitab ash-Shahih disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Rendahkanlah suara kalian. Sungguh kalian tidak sedang berdoa kepada si tuli yang tiada. Kalian sedang berdoa kepada Dia Yang Maha Mendengar nan Maha Melihat.” Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari. Dan para ahli Filosuf pun telah sepakat bahwa Allah Ta’ala mesti bersifat sama’.

Dikutip dari Kitab Tanwirul Qulub, karya Sayyidi Syaikh Muhammad Amin al-Kurdi (qs.)

Semoga bermanfaat.

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠﻰَ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪِ، ﺍﻟْﻔَﺎﺗِﺢِ ﻟِﻤَﺎ ﺃُﻏْﻠِﻖَ ﻭَﺍﻟْﺨَﺎﺗِﻢِ ﻟِﻤَﺎ ﺳَﺒَﻖَ، ﻧَﺎﺻِﺮِ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ، ﻭَﺍﻟْﻬَﺎﺩِﻱ ﺇِﻟَﻰ ﺻِﺮَﺍﻃِﻚَ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻘِﻴْﻢِ ﻭَﻋَﻠﻰَ ﺁﻟِﻪِ ﺣَﻖَّ ﻗَﺪْﺭِﻩِ ﻭَﻣِﻘْﺪَﺍﺭِﻩِ ﺍﻟﻌَﻈِﻴْﻢِ

Sufi Podcast dipersembahkan kepada Anda oleh Albali Studio.
Website: https://albalistudio.com/

source

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *