Dikutip dari Kitab Tanwirul Qulub, karya Sayyidi Syaikh Muhammad Amin al-Kurdi (qs.)

Qadha’ adalah hubungan azali kehendak Allah dengan segala sesuatu apa adanya dalam kesinambungan sesuai ilmu-Nya, dan ini merupakan sifat Dzat. Sedangkan qadar adalah pewujudan sesuatu dengan ukuran tertentu dan arah tertentu yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala, dan ini merupakan sifat af’al. Qadha’ bersifat qadim, sedangkan qadar bersifat hadits.

Tidak ada perbedaan pendapat di antara ahli kebenaran tentang kenyataan qadha’ dan qadar sebagai bagian dari akidah yang wajib diimani. Karena itu, kita wajib meyakini bahwa ilmu dan kehendak Allah berhubungan di zaman azali dengan segala sesuatu apa adanya dalam kesinambungan. Kita juga harus yakin bahwa kuasa Allah berhubungan dengan segala sesuatu dalam kesinambungan sesuai hubungan ilmu dan iradah-Nya dengan segala sesuatu itu di zaman azali. Dengan demikian, tidak ada hal baru (apa pun yang selain Dia), entah yang baik maupun yang buruk, melainkan keluar dari kehendak dan kuasa-Nya yang selaras dengan ilmu-Nya.

At-Tirmidzi meriwayatkan hadis dari Jabir bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Seorang hamba tidak dikatakan beriman hingga dia beriman kepada qadar, terhadap yang baiknya maupun terhadap yang buruknya, dan hingga dia tahu bahwa apa yang telah menimpa dirinya itu menimpa dirinya bukan karena salah sasaran, dan apa yang tidak menimpa dirinya itu memang tidak untuk ditimpakan kepada dirinya.”

Sayyidina ‘Ali r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Seorang hamba tidak dikatakan beriman hingga ia beriman pada empat hal. Yakni, menyaksikan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah; menyaksikan bahwa aku sungguh rasul Allah yang telah Dia utus membawa kebenaran; mengimani kebangkitan setelah kematian; dan beriman kepada qadar, yang baiknya maupun yang buruknya, yang manisnya maupun yang pahitnya.” Hadis ini diriwayatkan oleh al-lmam Ahmad di dalam Musnad-nya. Diriwayatkan pula oleh at-Tirmizi, Ibnu Majah dan al-Hakim.

Ada kalanya seorang hamba yang kerdil berdalih bahwa jika kenyataannya demikian, si hamba bisa beralasan, “Mengapa Engkau menyiksa aku, sementara semua perbuatan adalah perbuatan-Mu?” Alasan ini ditolak. Allah Ta’ala mengetahui segala sesuatu apa adanya di azali secara rinci. Sebelum makhluk mewujud, Dia tahu keburukan dan kebaikan yang akan diupayakan oleh hamba setelah mengada, dan Dia menuliskannya sesuai ilmu-Nya.

Semoga bermanfaat.

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠﻰَ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪِ، ﺍﻟْﻔَﺎﺗِﺢِ ﻟِﻤَﺎ ﺃُﻏْﻠِﻖَ ﻭَﺍﻟْﺨَﺎﺗِﻢِ ﻟِﻤَﺎ ﺳَﺒَﻖَ، ﻧَﺎﺻِﺮِ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ، ﻭَﺍﻟْﻬَﺎﺩِﻱ ﺇِﻟَﻰ ﺻِﺮَﺍﻃِﻚَ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻘِﻴْﻢِ ﻭَﻋَﻠﻰَ ﺁﻟِﻪِ ﺣَﻖَّ ﻗَﺪْﺭِﻩِ ﻭَﻣِﻘْﺪَﺍﺭِﻩِ ﺍﻟﻌَﻈِﻴْﻢِ

Sufi Podcast dipersembahkan kepada Anda oleh Albali Studio.
Website: https://albalistudio.com/

source

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *