Penerjemah: Aldi Fajar Budiman Putra

Video ini ditujukan untuk pemirsa yang sudah bisa berbahasa Inggris, untuk meminimalisir kesalahpahaman yang disebabkan oleh kesalahan penerjemahan. Mohon maaf dan terima kasih.

Kunjungi: https://albalistudio.com/

—–

Sumber: https://youtu.be/Ezg9P_ok07U
Video acara (lengkap): https://youtu.be/lZHj5O-eKaU

—–

Shalawat yang dibaca sebelum membaca puisi:

Shalawat Munjiyat (Shalawat Penyelamat)

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyidinâ Muhammadin wa ‘alâ âli Sayyidinâ Muhammadin shalâtan tunjînâ bihâ min jamî’il ahwâli wal âfât wa taqdhî lanâ bihâ jamî’al hâjat wa tuthahhirunâ bihâ min jamî’is sayyiât wa tarfa’unâ bihâ ‘indaka a’lad darajât wa tuballighunâ bihâ aqshal ghâyat min jamî’il khairâti fil hayâti wa ba’dal mamât

“Ya Allah limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan shalawat itu, Engkau akan menyelamatkan kami dari semua keadaan yang menakutkan dan dari semua cobaan; dengan shalawat itu, Engkau akan mengabulkan hajat kami; dengan shalawat itu, Engkau akan menyucikan kami dari segala keburukan; dengan shalawat itu, Engkau akan mengangkat kami ke derajat paling tinggi; dengan shalawat itu pula, Engkau akan menyampaikan kami kepada tujuan yang paling sempurna dalam semua kebaikan, ketika hidup dan setelah mati.”

—–

Terjemahan Puisi:

“Jadilah Seperti Ahmad”

Matahari menyatakan
dengan kesungguhannya:
“Bagaimana aku bisa
bersinar bila berada
di sampingnya?”

Dan Rembulan tertawa
sembari berkata:
“Jadilah sepertiku!
Yang ridha walau hanya
mampu menyinari dengan
cahaya dari yang lain.”‘

Bintang Utara berkata:
“Apalah arti
bimbinganku ini bila
dibandingkan dengan
bimbingannya?”

Dan berserulah
semua bintang lainnya:
“Jadilah seperti kami!
Yang selalu berputar
mengelilingimu
tanpa rasa iri dengki.”

Lautan berteriak:
“Apalah arti dari
berbagai rahasia yang
aku simpan, bila
dibandingkan dengan
keajaiban dari
berbagai rahasianya?”

Awan-awan menjawab:
“Jadilah seperti kami!
Yang ditempatkan
di langit karena kami
mengambil air kami
dari yang lain
dengan rendah hati.
Dan mencurahkannya
sebagai bentuk syukur
dan pengabdian.”

Mawar dengan sedih
berkomentar:
“Apalah arti keindahanku
bila dibandingkan dengan
keindahannya?”

Cermin berkata:
“Jadilah sepertiku!
Yang hanya mampu
memantulkan keindahan
dari yang lain.”

Akal berseru:
“Hikmah apa yang
bisa aku singkapkan,
bila dibandingkan dengan
yang dia singkapkan?”

Lidah menimpalinya:
“Diamlah dan biarkan aku
mengutip perkataannya.”

Emas mengeluh:
“Nilai apa yang aku
miliki bila dibandingkan
dengan nilainya?”

Tembaga menangis:
“Janganlah kufur nikmat!
Kemurnianmu adalah
miliknya sedari awal.”

“Berbahagialah
bila engkau disandingkan
dengannya!”

Anjing menggonggong:
“Dia menyebutku!”

Kucing mengeong:
“Dia membelaiku!”

Keledai meringkik:
“Dia menunggangiku!”

Kuda meringih:
“Dia memanggilku lautan!”

Unta mendengus:
“Aku membawanya
ke tempat aman!”

Katak menguak:
“Aku favoritnya!”

Laba-laba berdiri tinggi
di atas 8 kakinya,
berkata: “Aku pernah
melindunginya!”

Awan dengan bangga
berkata: “Aku pernah
memberinya keteduhan!”

Pohon berseru:
“Dia pernah memanggilku
dan aku menunduk
kepadanya!”

Batang Palem berkata:
“Ya, tapi dia pernah
memelukku!”

Kurma menimpali:
“Aku menjadi manis
untuknya!”

Susu angkat bicara:
“Aku memberinya nutrisi!”

Air beriak:
“Aku puaskan dahaganya!”

Ka’bah berseru:
“Dia pernah mengitariku!”

Sudut Yamani menjawab:
“Dia menyentuhku!”

Hajar Aswad tertawa
dan berkata:
“Dia menciumku!”

Kerikil berteriak:
“Kami memuji Tuhan
di telapak tangannya!”

Gunung-gunung
di Mekkah berseru:
“Dia mencintai kami!”

Madinah
dengan sopan berbisik:
“Tapi dia memilihku.”

Dan umat manusia
merengek:
“Nafsi! Nasfi!”
“Diriku! Diriku!”

Dan Tuhan berfirman:
“Jadilah seperti Ahmad!”

Dan Ahmad bersabda:
“Ummati! Ummati!”
“Umatku! Umatku!”

Dan Tuhan menjawab:
“Kami pasti akan
mengabulkan
permohonanmu
hingga engkau
merasa ridha.”

— Shaykh Hamza Yusuf QS.

source

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *