226. Hakikat Hati Orang ‘Arif Masih Bersifat Global, Detailnya Akan Diketahui Kemudian

Est. Baca: 2 Menit

Hikmah 226 dlm Al-Hikam:

“Hakikat Hati Orang ‘Arif Masih Bersifat Global, Detailnya Akan Diketahui Kemudian

اَلْحَقَا ئِقُ تَرِ دُ فِي حَا لِ التَّجَلِّي مُجْمَلَةً، وَبَعْدَ الْوَعْيِ يَكُوْ نُ الْبَيَانُ. (فَإِذَا قَرَأْ نَا هُ فَا تَّبِعْ قَرَآ نَهُ. ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَا نَهُ)

Di saat tajalli (penampakan Tuhan), hakikat² datang secara global. Setelah selesai, barulah terdapat penjelasan. “Bila Kami telah selesai membacakannya, ikutilah bacaan-Nya. Kemudian, Kami yg akan menjelaskannya.” (QS. Al-Qiyamah [75]: 18-19)

Yg dimaksud hakikat dalam hikmah ini yaitu ilmu ladunni yg Allah Ta’ala berikan kepada hamba-Nya yg makrifat billah, yg datangnya ilmu itu langsung dari Allah Ta’ala, tanpa lewat proses belajar seperti umumnya ilmu.

Maksud tajalli yaitu: Allah Ta’ala memperlihatkan Diri-Nya secara jelas dalam hati hamba-Nya (manifestasi Ketuhanan). Dan ketika hakikat (ilmu ladunni) itu sudah menetap dalam hati hamba barulah jelas keterangan (penjelasan dan perincian)nya, dan semua cocok dengan ilmu syari’at, baik dengan dalil Aqliyyah maupun dalil Naqliyyah.

Syaikh Abu Bakar al-Warraq qs. berkata: “Ketika saya sedang berada di hutan bani Isra’il, tiba² tergeraklah dalam hatiku bahwa ilmu hakikat itu berlawanan dengan ilmu syari’at, mendadak terlihat olehku seorang yg berada dibawah pohon dengan menjerit dan memanggil: ‘Hai Abu Bakar, tiap² hakikat yg bertentangan dengan syari’at itu kekufuran.'”

Syarah Syaikh Abdullah asy-Syarqawi:

Berbagai hakikat atau ilmu ladunni yg dimasukkan Allah Ta’ala ke dalam batin orang² ‘arif saat mereka terbebas dari perbudakan makhluk dan mata batin mereka mendapatkan hembusan kebenaran akan datang saat Allah Ta’ala menampakkan Diri-Nya dalam hati mereka. Tajalli Tuhan secara global maksudnya adalah, belum ada penjelasan tentang makna dan arah tajalli tersebut karena kebesaran tajalli -Nya dalam hati mereka. Setelah mereka sadar dan setelah tajalli Allah Ta’ala itu usai, barulah datang penjelasan sehingga akal mereka mengetahui makna tajalli itu dengan mengkaji dan memperhatikannya. Dengan demikian, tampaklah bagi mereka bahwa tajalli Allah Ta’ala itu benar² sesuai dengan ilmu² aqli dan naqli yg mereka miliki.

Bahkan mungkin, sebagian dari mereka ada yg banyak membicarakannya tanpa peduli. Jika ia selesai mengingat dan mengamatinya, barulah ia mendapatinya benar. Seperti yg terjadi pada Al-Hallaj, ia pernah mengucap, “Di jubah ini hanya ada Allah.” Ia mengatakan kalimat ini karena kebesaran tajalli Allah Ta’ala pada dirinya.

Jika tajalli itu hilang darinya dan ia telah sadar kembali, ia akan mendapati bahwa maknanya benar. Makna tajalli yg benar itu ialah, tak ada yg berdiri tegak pada segala sesuatu, kecuali Allah Ta’ala. Inilah yg sesuai syari’at.

Contoh tentang hal ini adalah ucapan seseorang, “Aku adalah Lauh” atau “Aku adalah Qalam.” Kalimat itu terucap karena keagungan tajalli Allah Ta’ala terjadi pada dirinya dan ia tak sadarkan diri. Ia merasa bahwa dirinya adalah inti dari kedua benda itu (lauh dan qalam). Jika tajalli itu usai dan ia kembali sadar, ia akan mendapati maknanya benar, yaitu bahwa yg ber- tajalli pada dirinya adalah Allah Ta’ala dan rahasia-Nya terjadi pada lauh dan qalam.

Menanggapi hal ini, Syaikh Ibnu Atha‘illah mengisyaratkan masalah yg cukup populer di kalangan mereka, yaitu tentang kesesuaian hakikat dengan syari’at. Mereka berkata, “Hakikat tanpa syari’at bathil dan syari’at tanpa hakikat akan terhenti.” Kemudian, ia mendasari hal itu dengan firman-Nya:

فَاِذَا قَرَأْنٰهُ فَاتَّبِعْ قُرْاٰنَهٗ ۚ ثُمَّ اِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهٗ ۗ

“Bila Kami telah selesai membacakannya, ikutilah bacaan-Nya. Kemudian, Kamilah yg akan menjelaskannya.” (QS. Al-Qiyamah [75]: 18-19)

Maksudnya, Kami membacakannya melalui lisan Jibril, maka dengarkanlah bacaannya, lalu ikuti bacaan itu. Selanjutnya, Kami yg berkewajiban menjelaskan makna²nya kepadamu.

Di sini, Syaikh Ibnu Atha’illah menganggap penjelasan makna² setelah membaca ayat²Nya itu sama halnya dengan tajalli Ilahi yg penjelasan maknanya terjadi setelah orang yg mengalaminya tersadar kembali. Wallaahu a’lam

Share via
Copy link
Powered by Social Snap