207. Semua Kewajiban Yang Dibebankan-Nya Adalah Demi Kemaslahatan Hamba, Bukan Demi Kepentingan-Nya (2)

Est. Baca: 3 Menit

Hikmah 207 dlm Al-Hikam:

عَلَمِ قِلَّةَ نُهُوْ ضِ الْعِبَا دِ إِلَى مُعَا مَلَتِهِ، فَأَ وْجَبَ عَلَيْهِمْ وُجُوْ دُ طَا عَتِهِ، فَسَا قَهُمْ إِلَيْهَا بِسَلَا سِلِ الْإِيْجَابِ، عَجِبَ رَبُّكَ مِنْ قَوْ مٍ يُسَا قُوْ نَ إِلَى الْجَنَّةِ بِا لسَّلَا سِلِ.

Allah mengetahui kurangnya semangat hamba dalam beribadah.Oleh karena itu, Dia menggiring mereka untuk menunaikan sejumlah ketaatan dengan rantai kewajiban. Dan, Tuhan kagum melihat kaum yg digiring ke surga dengan rantai tersebut.

Sesungguhnya Allah Ta’ala itu memerintahkan kepada hamba-Nya untuk beribadah dan taat, dengan cara memaksa yakni dengan kewajiban. Dan Allah Ta’ala menakut-nakuti hamba-Nya dengan neraka apabila tidak melakukan taat.

Syarah Syaikh Abdullah asy-Syarqawi:

Allah Ta’ala mengetahui kurangnya semangat para hamba untuk beribadah, bermu’amalah dengan-Nya, mendatangi-Nya dengan ketaatan, dan melaksanakan hak² rububiyah-Nya dengan penuh sukarela. Oleh sebab itu, Allah Ta’ala mewajibkan mereka untuk melaksanakan sejumlah ketaatan dengan paksa dan mengancam mereka dengan neraka jika tidak melaksanakannya. Allah menyeret mereka agar melakukan ketaatan kepada-Nya dengan rantai kewajiban.

Kewajiban di umpamakan dengan rantai yg dilingkarkan di leher para tawanan untuk menyeret mereka dengan paksa. Dengan rantai kewajiban itu, Allah Ta’ala memaksa para hamba untuk melaksanakan ketaatan yg akan membuahkan kebahagiaan bagi mereka di masa depan walaupun di masa sekarang terasa berat. Allah Ta’ala melakukan hal ini terhadap hamba²Nya, sebagaimana seorang bapak melakukannya terhadap anaknya. Tidakkah kau lihat bagaimana seorang bapak mendidik dan memaksa anaknya untuk mengikuti sifat² dan tabiatnya walaupun terasa berat bagi sang anak. Meski terpaksa, anak itu pun akan melakukannya. Hal itu tak lain agar sang anak mendapatkan manfaat di masa depan yg tidak diketahuinya di masa sekarang. Kelak saat ia beranjak dewasa dan akalnya telah matang, ia akan merasakan manfaat itu dan menyadari kebenaran perlakuan sang bapak.

Tuhan kagum kepada satu kaum yg digiring ke surga dengan rantai kewajiban, sebagaimana yg dilakukan kaum muslim terhadap para tawanan kafir saat mereka diharapkan masuk Islam. Kaum itu digiring ke surga dengan rantai di leher mereka. Ini adalah makna hadits Rasulullah Saw. tentang tawanan Perang Badar yg lafalnya, “Allah kagum dengan kaum² yg digiring ke surga dengan rantai.”

Kagum bermakna menganggap besar perkara yg kecil. Kagum adalah sifat yg mustahil bagi Allah Ta’ala. Tentang lafal ini, ada dua pendapat. Salah satunya berpendapat bahwa Allah Ta’ala memiliki kekaguman yg tidak kita ketahui hakikatnya dan Dia terbebas dari maksud lafal “kagum” yg kita kenal.

Mazhab ulama khalaf menakwilkan hal itu dengan berkata, “Makna ‘kagum’ atau ‘takjub’ yg di nisbatkan kepada Allah Ta’ala adalah, Allah Ta’ala menampakkan keajaiban sebuah perkara kepada makhluk-Nya karena Allah Maha Mencipta segala sesuatu.” Allah Ta’ala kagum kepada satu kaum yg diseret ke surga tak lain karena saat semua orang ingin segera menyongsong surga dan keindahannya, mereka malah menolak untuk masuk kesana sampai harus diseret, seakan mereka diseret ke dalam sesuatu yg tidak mereka sukai.

Ada pendapat yg mengatakan bahwa yg dimaksud “kagum” disini adalah konsekuensi kagum, yaitu berbuat baik kepada yg dikagumi. Misalnya, jika kau katakan, “Betapa Zaid seorang yg alim,” konsekuensinya kau tentu ingin berbuat baik kepada Zaid dan menghormatinya.

Jadi, maknanya, Allah Ta’ala ingin berbuat baik kepada kaum itu dengan mengundang mereka masuk surga dan menyeret mereka dengan paksa. Ini berlaku bagi orang² awam. Orang awam harus diseret dengan rantai kewajiban agar mereka melakukan ketaatan.

Bagi orang² khusus, mereka tidak membutuhkan paksaan, ancaman, atau peringatan karena Allah Ta’ala telah melapangkan dada mereka, menerangi mata hati mereka, dan mengukuhkan keimanan di dalam hati mereka sehingga mereka lebih mencintai ketaatan dan membenci maksiat. Maka dari itu, mereka tidak membutuhkan sedikit pun paksaan karena mereka terbebas total dari kebendaan dan kemakhlukan yg menguasai hati. Mereka selalu taat dengan penuh sukarela, bahkan jika mereka dipaksa untuk meninggalkan ketaatan itu, mereka tidak akan tahan dan tidak akan bersabar. Andai ada taklif (pembebanan hukum) bagi mereka, fungsinya saat itu tak lain untuk menunjukkan kecintaan mereka kepada yg memberi beban hukum. Sebagaimana para raja yg memerintah menteri²nya agar melayaninya, tak lain untuk menambah kedekatan dan penghormatan mereka kepada rajanya. Wallaahu a’lam

Share via
Copy link
Powered by Social Snap