206. Semua Kewajiban Yang Dibebankan-Nya Adalah Demi Kemaslahatan Hamba, Bukan Demi Kepentingan-Nya (1)

Est. Baca: 2 Menit

Hikmah 206 dlm Al-Hikam:

“Semua Kewajiban Yang Dibebankan-Nya Adalah Demi Kemaslahatan Hamba, Bukan Demi Kepentingan-Nya”

قَيَّدَ الطَّا عَا تِ بِأَ عْيَا نِ الْأَوْقَا تِ، كَيْ لَا يَمْنَعَكَ عَنْهَا وُجُوْدُ التَّسْوِ يْفِ وَوَ سَّعَ عَلَيْكَ الْوَقْتَ، كَيْ تَبْقَى لَكَ حِصَّةُ الْإِخْتِيَارِ.

Allah membatasi ketaatan dengan ketentuan waktu agar sikap suka menangguhkan tidak merintangimu untuk mengerjakannya. Namun, Allah memperluas waktunya agar tetap ada peluang bagimu untuk memilih waktu yg lebih tepat, dan lebih baik.

Sudah menjadi kebiasaan manusia senang menunda-nunda pekerjaan dan amal ibadah, sehingga Allah Ta’ala menetapkan waktu amal taat, seperti shalat lima waktu. Karena apabila waktunya tidak ditentukan pastilah manusia menunda-nunda yg akhirnya tidak sampai berbuat. Dan sebab belas kasih Allah Ta’ala, manusia diberi keluasan waktu, sehingga banyak kesempatan untuk bisa berbuat taat.

Syarah Syaikh Abdullah asy-Syarqawi:

Allah Ta’ala membatasi ketaatan yg wajib atasmu dengan waktu² tertentu, shalat lima waktu misalnya. Allah tidak membebaskan waktu²nya agar sikap “suka menangguhkan” tidak menghalangimu untuk mengerjakannya. Jika Allah Ta’ala membebaskan waktunya dan tidak menentukannya, sikap “suka menunda” itu akan mendorongmu untuk meninggalkannya. Kau akan malas dan berkata, “Kalau aku sudah selesai dari keperluanku, aku akan shalat karena waktunya amat luas.” Bahkan mungkin, sehari semalam terlewatkan begitu saja tanpa kau melakukan shalat itu.

Lain halnya jika waktunya dibatasi, hal itu akan mendorongmu untuk segera mengerjakannya dan selalu membuatmu waspada sehingga tidak melewatkannya.

Namun demikian, Allah Ta’ala tetap memperluas waktunya agar kau mempunyai peluang untuk memilih. Kau bisa memilih mengerjakannya di awal waktu, di pertengahan, atau di akhirnya dan kau tidak lagi menjadi orang yg menyia-nyiakan waktu shalat meski melaksanakannya di akhir waktu. Selain itu, kau bisa melaksanakan shalat secara sempurna, yaitu saat hatimu sejalan dengan anggota tubuh lainnya. Jika waktu shalat itu luas, kau bisa meninggalkan kesibukan dan halanganmu sehingga ketika itu kau bisa mengkonsentrasikan pikiran untuk khusyuk dalam beribadah dan menjaga adab di hadapan Allah Ta’ala. Wallaahu a’lam

Hikmah 206 dlm Al-Hikam: “Semua Kewajiban Yang Dibebankan-Nya Adalah Demi Kemaslahatan Hamba, Bukan Demi Kepentingan-Nya” قَيَّدَ الطَّا عَا تِ بِأَ عْيَا نِ الْأَوْقَا تِ، كَيْ لَا يَمْنَعَكَ عَنْهَا وُجُوْدُ التَّسْوِ يْفِ وَوَ سَّعَ عَلَيْكَ الْوَقْتَ، كَيْ تَبْقَى لَكَ حِصَّةُ الْإِخْتِيَارِ. Allah membatasi ketaatan dengan ketentuan waktu agar sikap suka menangguhkan

Lanjutkan membaca di sini:

Share via
Copy link
Powered by Social Snap