202. Syarat Menerima Pemberian yg Harus Dipenuhi Ahli Tajrid (yg tidak diberi kemudahan hidup) dan Ahli Asbab (yg diberi kemudahan hidup)

Est. Baca: 3 Menit

Hikmah 202 dlm Al-Hikam:

“Syarat Menerima Pemberian yg Harus Dipenuhi Ahli Tajrid (yg tidak diberi kemudahan hidup) dan Ahli Asbab (yg diberi kemudahan hidup)”

لَا تَمُدَّ نَّ يَدَكَ إِلَى الْأَخْذِ مِنَ الْخَلَا ئِقِ إِلَّا أَنْ تَرَ ى أَنَّ الْمُعْطِيَ فِيْهِمْ مَوْ لَاكَ, فَإِذَا كُنْتَ كَذَ لِكَ فَخُذْ مَا وَافَقَكَ الْعِلْمُ.

Jangan kau mengulurkan tangan untuk menerima sesuatu dari makhluk, kecuali kau melihat bahwa yg memberi adalah Allah. Jika kau telah demikian, ambillah apa yg sesuai dengan pengetahuanmu (syari’at/halal).

Sebab bila engkau masih merasa yg memberi itu makhluk (berarti ada yg dapat membantumu selain Allah), maka Tauhidmu belum benar (murni) dalam menerima pengertian ke-Esaan Allah dalam kalimah: Laa ilaaha illallah dan Laa haula walaa quwwata illaa billah. Sebab hakikatnya semua pemberian itu hanya dari Allah, semua hak dan kekuasaan Allah semata, sehingga bila ada pemberian dari tangan siapa saja (makhluk), haruslah meyakini bahwa itu langsung dari Allah yg menyuruh seorang hamba untuk menyampaikan kepadamu. Kamu juga jangan menerima pemberian makhluk kecuali yg sesuai dengan ilmumu, yakni: ilmu lahir (syari’at) dan ilmu batin (hakikat).

Khalid Al-Juhani ra. berkata: “Rasulullah Saw. bersabda: ‘Siapa yg kedatangan hadiah/sedekah dari temannya tanpa ia meminta dan berharap dalam hatinya, maka hendaknya diterima, sebab yg demikian itu sebagai rizqi yg dihantar oleh Allah kepadanya.’ Dalam riwayat lain ada tambahan: ‘dan bila ia tidak membutuhkan karena sudah cukup, maka hendaknya diberikan kepada yg lebih berhajat daripadanya.’ Rasulullah Saw. bersabda: ‘Siapa yg menolak rizqi yg diberi oleh makhluk tanpa minta², maka sesungguhnya ia telah menolak pemberian Allah.'”

Sayyidina Umar bin Khattab ra. berkata: “Rasulullah selalu memberi kepada saya, maka saya berkata, ‘Berikan kepada orang yg lebih membutuhkan daripada saya.’ Rasulullah Saw. bersabda: ‘Terimalah dan pergunakan atau sedekahkan, dan tiap harta yg datang kepadamu dengan tidak engkau harapkan atau engaku minta, maka terimalah, dan yg tidak jangan engkau harap²kan.'”

Syaikh Ibrahim al-Khawwas ra., berkata: “Seorang sufi itu tidak harus memilih jalan tidak berusaha (tajrid), kecuali jika memang sudah cukup keadaannya.”

Syaikh Abu Abdullah Al-Qurasyi ra. berkata: “Selama keinginan berusaha itu kuat dalam perasaan nafsu, maka berkasab itu lebih utama.”

Syaikh Al-A’masyi (Sulaiman) ra. berkata: “Ada seorang pemuda yg datang kepada Syaikh Ibrahim At-Taimi, untuk memberi hadiah uang sebanyak 2000 dirham, sambil berkata: ‘Terimalah uang ini, ini bukan dari raja, juga bukan uang syubhat dan lain²nya.’ Jawab Syaikh Ibrahim: ‘Semoga Allah memberkahi hartamu, dan membalas engkau dengan kebaikan dan terima kasih.’ Lalu ditolaknya uang itu. Setelah pemuda itu pergi saya bertanya: ‘Ya Aba Imran, mengapa engkau tidak menerima pemberian itu? Demi Allah, istrimu tidak memiliki gamis.’ Jawab Syaikh Ibrahim: ‘Benar, tetapi anak itu masih muda, belum banyak pengalaman, saya khawatir kalau ia kembali ke kampungnya lalu memberi tahu kepada teman² nya: ‘Saya telah memberi Ibrahim 2000 dirham, maka hilang pahalanya dan hilang pula uangnya.'”

Syarah Syaikh Abdullah asy-Syarqawi:

Wahai murid yg ingin menyucikan diri, jangan kau ulurkan tanganmu untuk mengambil sesuatu dari makhluk, berupa rezeki yg didasari belas kasihan, kecuali dengan dua syarat berikut.

Pertama, jika kau lihat bahwa yg memberinya adalah Tuhanmu melalui mereka. Artinya, mereka hanyalah perantara, sedangkan yg memberi sesungguhnya adalah Allah Ta’ala. Pandangan semacam itu tidak sekadar menjadi ilmu dan keimanan, melainkan harus menjadi ahwal dan dzauq (perasaan). Sikap itulah yg layak dilakukan oleh seorang murid yg ingin menyucikan diri.

Kedua, jika kau telah menyadari bahwa yg memberi sebenarnya adalah Tuhanmu, ambillah apa yg sesuai dengan pengetahuanmu. Maksudnya, jangan kau ambil, kecuali yg sesuai dengan ilmu untuk mengambilnya. Ilmu untuk mengambil ini ada dua macam: ilmu lahir dan ilmu batin. Contoh ilmu lahir, kau tidak boleh mengambil, kecuali dari tangan seorang mukallaf yg matang dan bersih. Contoh ilmu batinnya, kau tidak mengambil, kecuali yg diberi atas dasar bantuan semata atau jangan kau ambil, kecuali yg kau butuhkan saja untuk kau gunakan dalam kebutuhanmu, tanpa berlebihan dan kekurangan. Sikap itulah yg dilakukan Rasulullah Saw. dalam menerima pemberian yg berupa sandang, pangan, dan papan.

Jangan kau ambil apa pun yg datang kepadamu sebelum waktunya dan yg melebihi kebutuhanmu. Jangan pula mengambil apa pun yg diberikan kepadamu untuk mengujimu, misalnya jika kau diberi sesuatu yg sebenarnya ingin kau tinggalkan karena Allah. Hal itu dapat menghalangimu untuk menunaikan hak² Tuhanmu. Jangan pula mengambil dari orang yg suka memberi namun dengan rasa bangga, yg ingin menampakkan kedermawanannya, atau dari orang yg terasa berat bagi hatimu untuk menerima pemberiannya. Jangan pula kau makan, kecuali dari orang yg melihat pada dirimu ada keutamaan dalam memakannya. Wallaahu a’lam

Share via
Copy link
Powered by Social Snap