199. Hikmah dan Nasihat adalah Makanan Hati yang Berbeda Rasa dan Porsinya dari Satu Orang ke Orang Lain (1)

Est. Baca: 2 Menit

Hikmah 199 dlm Al-Hikam:

“Hikmah dan Nasihat adalah Makanan Hati yang Berbeda Rasa dan Porsinya dari Satu Orang ke Orang Lain”

الْعِبَا رَتُ قُوْتٌ لِعَا ئِلَةِ الْمُسْتَمِعِيْنَ , وَلَيْسَ لَكَ إِلَّا مَا أَنْتَ لَهُ آ كِلٌ.

Keterangan (kata² yg berhubungan dengan ilmu makrifat), itu bagaikan makanan bagi yg mendengarkan (membutuhkannya), dan engkau tidak mendapat apa² kecuali apa yg engkau makan.

Pada kenyataan lahir bahwa warna dan bentuk makanan itu bermacam-macam (berbeda-beda), dan makanan yg cocok dengan seseorang kadang tidak cocok bagi yg lainnya karena bedanya watak dan selera, dan makanan itu yg berguna bagi tiap² orang itu hanya yg dimakan. Begitu juga makanan yg bangsa maknawi, yg difahami dari ilmu makrifat itu juga berbeda-beda. Apa yg cocok dengan seseorang kadang tidak cocok untuk orang lainnya, sehingga suatu keterangan yg disampaikan kepada orang banyak/jama’ah, itu terkadang berbeda juga pemahaman satu dengan yg lainnya, itu karena berbeda tujuannya.

Syaikh Muhyiddin Ibnu Arabi ra. berkata: “Pada suatu hari kami mendapat undangan dari teman di Zuqoqil-qonadil di Mesir, dan disitu bertemu dengan Guru², dan setelah hidangan dikeluarkan, disitu ada satu wadah dipakai untuk tempat kencing, tetapi karena sudah tidak terpakai lagi, maka dipakai juga untuk tempat makanan, maka setelah selesai orang² makan tiba² wadah itu berkata: ‘Karena kini aku telah mendapat kehormatan dari Allah untuk tempat makanan Guru² ini maka mulai saat ini aku tidak rela dipakai tempat kotoran.’ Kemudian ia terbelah menjadi dua.”

Syaikh Ibnu Arabi bertanya kepada hadirin semua: “Apakah kalian semua telah mendengar?” Jawab mereka: “Ya, kami mendengar. Ia berkata, ‘Sejak aku dipakai tempat makanan Guru², maka aku tidak mau menjadi tempat kotoran lagi.'”

Syaikh Ibnu Arabi berkata: “Tidak begitu katanya.” Para hadirin bertanya: “Lalu ia berkata apa?” Jawab Syaikh Ibnu Arabi: “Demikian pula hatimu setelah mendapat kehormatan dari Allah dijadikan tempat Iman, maka janganlah rela ditempati najis², syirik, maksiat dan cinta dunia.”

Syarah Syaikh Abdullah asy-Syarqawi:

Ungkapan yg diucapkan oleh ahli tarekat tentang ilmu dan makrifat adalah makanan ruh bagi para pendengarnya atau mereka yg membutuhkan nasihat dan hikmah, persis seperti makanan yg dibutuhkan oleh tubuh manusia.

Apa yg kau peroleh tak lain adalah apa yg telah kau makan. Tidak setiap orang cocok dengan satu makanan tertentu karena perbedaan kebiasaan dan kesukaan. Demikian pula dengan makanan ruh, makanan ruh untuk seseorang belum tentu cocok untuk orang lain karena perbedaan kecenderungan dan keinginan mereka masing².

Bahkan, terkadang satu ungkapan yg dilontarkan kepada satu kelompok pun, tiap² anggota kelompok itu akan berbeda dalam memahaminya dengan yg dipahami anggota lainnya. Mungkin sebagian orang ada yg memahami sebuah ucapan dengan makna yg berbeda dengan yg di inginkan si pembicara, namun batinnya terpengaruh oleh hal itu secara menakjubkan. Wallaahu a’lam

Share via
Copy link
Powered by Social Snap