193. Tarekat Ahli Taklif (Sekadar Melaksanakan Kewajiban) dan Ahli Ta’rif (Berupaya Mengenal Allah) (1)

Est. Baca: 2 Menit

Hikmah 193 dlm Al-Hikam:

“Tarekat Ahli Taklif (Sekadar Melaksanakan Kewajiban) dan Ahli Ta’rif (Berupaya Mengenal Allah)”

من عَبَّرَ مِن بِساطِ احْسانِه اصْمَتـَتْهُ الاِساءةُ ومنْ عَبَّرَ مِن بِساطِاِحْساَنِ اللهِ اليهِ لم يَصْمُتْ اذاأساءَ

Siapa yg berbicara (mengajar) karena memandang kebaikan dirinya, ia akan berhenti ketika berbuat salah. Namun, siapa yg berbicara karena memandang anugerah Allah padanya, ia tidak akan berhenti ketika berbuat salah.

Hikmah ini menerangkan tentang orang yg mengajar/memberi nasihat tentang kebaikan dengan merasa bahwa dirinya sudah baik, dan merasa bahwa keterangannya itu hasil dari kebaikannya sendiri (yakni dia masih memandang dirinya sendiri), maka bila suatu saat dia tergelincir dalam dosa, dia akan merasa malu untuk memberi nasihat/mengajar orang lain, akan tetapi bila ia ketika memberi nasihat/mengajarkan ilmu pada orang lain itu hanya memandang bahwa ilmunya itu karunia dari Allah, ia tidak memandang dirinya, maka dia tidak merasa malu untuk menerangkan ilmu/memberi nasihat jika suatu saat ia tergelincir dalam dosa. Sebab berbuat kebaikan itu hanya semata-mata karunia dari Allah.

Syaikh Abul Abbas al-Mursyi ra. berkata: “Manusia itu terbagi menjadi tiga golongan. Pertama: golongan yg selalu memperhatikan apa² yg dari dirinya kepada Allah. kedua: Golongan yg selalu hanya ingat pemberian dan karunia dari Allah kepda dirinya. Ketiga: Golongan yg hanya memandang bahwa semua dari Allah kembali pada Allah.”

Golongan pertama: selalu memikirkan kekurangan diri dalam menunaikan kewajibannya, sehingga selalu berduka cita.

Golongan kedua: selalu melihat semua itu adalah karunia dari Allah, maka ia selalu gembira.

Dan golongan ketiga: telah lupa pada dirinya sendiri, hanya teringat bahwa semuanya berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah, maka semua terserah Allah.

Syaikh Abul Hasan asy-Syadzili ra. berkata: “Pada suatu malam saya membaca surat Qul-a’udzu birobbinnas hingga akhir surat. Tiba² terasa bagiku bahwa: Syarril was-waasil-khonnaas, yg berbisik dalam hati itu ialah yg menyusup antara kau dengan Allah, untuk melupakan engkau dari karunia² Allah, yg halus dan samar, dan mengingatkan engkau pada perbuatan²mu yg jahat/dosa. Tujuannya untuk membelokkan engkau dari khusnudzan kepada su’udzan terhadap Allah. Maka waspadalah.”

Beliau juga berkata: “Seorang ‘Arif itu ialah seorang yg telah mengetahui rahasia² karunia Allah di dalam berbagai macam ujian bala’ yg menimpanya sehari-hari. Dan juga menyadari/mengakui kesalahan²nya di dalam lingkungan belas kasih Allah kepadanya.”

Beliau berkata lagi: “Sedikitnya amal dengan mengakui karunia Allah, itu lebih baik dari banyaknya amal dengan merasa kekurangan diri sendiri. Yakni seolah-olah mempunyai kekuatan sendiri untuk bikin baik, hanya sekarang belum baik, sehingga ia selalu berduka cita memikirkan bagaimana ia dapatnya lebih baik. Padahal seharusnya ia menyerah dan hanya meminta kepada Allah saja.”

Sebab jika Allah belum memberi maka tetap tidak ada perubahan pada dirinya, berdasarkan pengertian ayat:

وَمنْ يَتَوكـَّلْ عَلى اللهِ فـَهُوَ حَسْبُهُ

Dan siapa yg berserah diri kepada Allah, maka Allah sendiri yg akan mencukupi/ melengkapi kekurangannya.

لاحَوْل ولاقُوَّة َالا بِاللهِ

Dan tiada daya upaya atau kekuatan, kecuali atas bantuan dan pertolongan Allah.

Syarah Syaikh Abdullah asy-Syarqawi:

Siapa yg berbicara tentang ilmu satu kaum dan memberitahukannya kepada murid karena memandang kebaikan dirinya atau karena melihat bahwa ungkapannya tentang ilmu itu bersumber dari kebaikan atau amal shalehnya, ia akan berhenti ketika berbuat salah. Ia akan berhenti bicara ketika ia bermaksiat karena malu dengan maksiatnya. Penyebabnya adalah karena ia memandang kebaikan dirinya saat berbicara. Saat kebaikan diri itu hilang, bicaranya pun terhenti.

Namun, siapa yg berbicara karena memandang hamparan kebaikan Allah atau memandang bahwa ungkapan dan pemberitahuannya tentang ilmu itu bersumber dari kebaikan Allah dan tidak memandang diri sendiri, ia tidak akan diam ketika berbuat salah. Ia tidak akan berhenti bicara ketika ia melakukan maksiat. Hal itu dikarenakan sikapnya yg tidak memandang diri sendiri dan hanya melihat keesaan dan kekuasaan Tuhannya, membuatnya berani untuk terus bicara. Wallaahu a’lam

Share via
Copy link
Powered by Social Snap