172. Riya’ Masuk Dari Tempat Yang Tak Terlihat Oleh Makhluk

Est. Baca: 2 Menit

Hikmah 172 dlm Al-Hikam:

“Riya’ Masuk Dari Tempat Yang Tak Terlihat Oleh Makhluk”

ربّما دخل الرياءُ عليك من حيث لاينظرالخلقُ اليكَ

Kadang kala penyakit riya’ masuk ke dalam dirimu dari tempat yg tak terlihat oleh makhluk.

Riya’ yg masuk dalam amal perbuatan ketika di depan orang banyak itu dinamakan riya’ jaliy (terang). Riya’ juga bisa masuk pada amal ketika sendirian, dan tidak ada orang yg mengetahuinya. Dan dengan amalnya itu dia berharap akan di sanjung orang, di muliakan orang, seumpama dia berilmu, supaya orang lain mencukupi hak²nya, dan apabila tidak, dia berharap supaya orang lain disiksa oleh Allah sebab tidak menghormati orang yg berilmu.

Apabila hal seperti ini ada dalam diri seseorang, itu tandanya dia riya’ dengan ilmunya, yg seperti ini dinamakan riya’ khafiy (samar).

Dan tidak akan selamat dari riya’ jaliy dan riya’ khafiy kecuali orang yg sudah ma’rifat billah, dan kuat tauhidnya. Karena Allah sudah menjaganya dari syirik dan menutup pandangannya dari melihat makhluk sebab Nur keyakinan dan Nur ma’rifat yg sudah terang bersinar dalam hatinya. Para ‘Arifin itu sudah tidak berharap dapat manfaat dari orang lain (makhluk), dan juga tidak takut bahaya dari makhluk. Dan amalnya para ‘arif itu bersih dari riya’ walaupun di kerjakan di depan orang banyak.

Rasulullah Saw. bersabda:
“Syirik itu ada yg lebih samar dari jalannya semut hitam di atas batu hitam di malam yg gelap gulita.” (dan riya’ itu termasuk syirik yg samar, yaitu beramal tidak karena Allah)

Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw. berkata: “Kelak di hari kiamat, Allah akan berkata kepada orang² yg zahid dan fakir: “Tidakkah telah dimurahkan (diturunkan) harga barang² untuk kamu, tidakkah jika kamu berjalan lalu diberi salam terlebih dahulu, tidakkah jika kamu berhajat segera disampaikan (dibantu) semua hajatmu.” Di dalam hadits lain diterangkan: “Kini tidak ada lagi pahala bagimu, sebab semua pahalamu telah kamu terima semasa hidup di dunia.””

Syaikh Yusuf bin al-Husain ar-Razy berkata: “Sesuatu yg amat berharga di dunia ini ialah ikhlas, beberapa kali aku bersungguh-sungguh untuk menghilangkan riya’ dalam hatiku, tiba² tumbuh lagi dengan lain corak (model).”

Syarah Syaikh Abdullah asy-Syarqawi:

Kadang, sifat riya’ menelisik ke dalam dirimu dari arah yg tak terlihat oleh makhluk lain atau saat kau di tempat yg tak dilihat oleh manusia. Biasanya, riya’ dapat masuk ke dalam amal jika pelakunya melakukan amal itu di hadapan manusia. Riya’ ini disebut dengan riya’ lahir.

Namun, riya’ juga bisa masuk ke dalam amal saat pelakunya melakukan amal sendirian dan tak dilihat orang, yaitu ketika seseorang melakukan amal dengan tujuan agar manusia menghormati dan mengagungkannya atau agar orang lain segera menunaikan hak untuknya dan memenuhi kebutuhannya. Jika hak dan kebutuhan si pelaku amal ini tidak dipenuhi secara maksimal oleh orang lain, ia akan menjauhinya atau mengancamnya dengan hukuman Allah atasnya.

Jika seorang hamba menemukan tanda² ini pada dirinya, sadarlah bahwa sebenarnya ia telah bersikap riya’ dengan amalnya.

Jika ia tutupi amalnya dari manusia, sifat riya’ itu disebut riya’ batin (tersamar). Tak seorang pun yg selamat dari riya’ lahir dan riya’ batin, kecuali orang² ‘arif yg mengesakan Allah. Allah Ta’ala membersihkan mereka dari segala macam kemusyrikan dan menjauhkan mereka dari keinginan agar cahaya keyakinan dan makrifatnya dilihat makhluk.

Orang² ‘arif tidak akan berharap manfaat dan takut mudharat apa pun dari makhluk. Amal mereka murni dan tulus karena Allah walaupun mereka melakukannya di hadapan manusia. Barang siapa yg tidak memiliki sifat ini atau lebih suka memandang makhluk, mengharap manfaat dan takut mudharatnya, berarti ia telah bersikap riya’ dengan amalnya walaupun ia beribadah kepada Allah di atas gunung yg tak bisa dilihat dan didengar oleh seorang pun. Wallaahu a’lam

Share via
Copy link
Powered by Social Snap