137. Larangan Mengakui Sifat Rububiyah Allah (1)

Est. Baca: < 1 Menit

Hikmah 137 dlm Al-Hikam:

“Larangan Mengakui Sifat Rububiyah Allah”

كن باوصاف ربوبيته متعلقا، وباوصاف عبود يّـتك متحققا

Bersandarlah selalu kepada sifat² Rububiyah Allah (ketuhanan-Nya) dan wujudkanlah sifat² ‘ubudiyah-mu (kehambaanmu).

Arti bersandar/bergantung pada sifat² ke-Tuhanan (Rububiyah) ialah: Ingatlah selalu sifat² ke-Tuhanan Allah, yaitu: Maha Kaya, Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Mulia, Maha Kuat dan sifat² sempurna lainnya.

Sedangkan memperlihatkan sifat² kehambaan (Ubudiyah) ialah: Menyadari sifat² hamba seperti: fakir/miskin, lemah, bodoh, hina, tak berdaya. Maka hamba harus bergantung/bersandar diri pada sifat² ke-Tuhanan Allah, sehingga Allah memberi pertolongan dan bantuan dan menitipkan sifat² Rububiyah-Nya pada hamba-Nya, seperti: menjadi kaya billah (karena Allah), kuasa billah, ‘alim/pandai billah, mulia billah, kuat billah.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Bersandarlah selalu kepada sifat² Rububiyah-Nya dan jangan berusaha mewujudkan sifat² itu pada dirimu karena seorang hamba tak mampu melakukannya. Ia hanya bisa bergantung pada sifat² Tuhannya. Maka dari itu, wujudkanlah pada dirimu sifat² ‘ubudiyah-mu kepada-Nya.

“Bersandar kepada sifat² Rububiyah” bermakna memandang atau memperhatikan maslahat sifat² itu. Namun demikian, tidak layak bagimu untuk bersifat dengan salah satunya.

“Mewujudkan sifat² ubudiyah” bermakna melihat dan memperhatikan sifat² itu atau mengamati pembentukannya untuk dirinya. Sifat inilah yg harus dimiliki seorang hamba dengan sempurna, bukan sifat² Rububiyah-Nya.

Sifat Rububiyah yg didapat seorang hamba yg ada pada dirinya tak lain hanyalah pinjaman Allah padanya, bukan miliknya pribadi. Jika seorang hamba mendapati sifat kaya dan mampu, mulia dan kuat pada dirinya, tak lain itu hanyalah milik Allah. Ia harus melihat bahwa sifat² asli yg dimilikinya adalah kebalikan dari semua sifat Allah, yaitu miskin, lemah, hina, dan tak berdaya. Kemudian, Allah menyokongnya dengan sifat²Nya sehingga ia menjadi kaya, mampu, tahu, mulia, dan kuat karena Allah. Wallaahu a’lam

Share via
Copy link
Powered by Social Snap