122. Kekeramatan Bukan Jaminan Kesempurnaan

Est. Baca: 3 Menit

Hikmah 122 dlm Al-Hikam:

لَيْسَ كُلُّ مَنْ ثَبَتَ تَخْصِيْصُهُ كـَمُلَ تَخـْـلِيْصُهُ

Tidak semua orang yg telah tampak jelas kekeramatannya itu berarti telah sempurna pembersihannya (dari penyakit² hati dan hawa nafsu).

Keramat (perkara yg luar biasa/tidak masuk akal) yg diberikan Allah kepada para hamba-Nya, yg tujuannya untuk menambah keyakinan dan keimanan hamba, dan untuk memperkenalkan bukti kekuasaan Allah itu tidak tergantung pada sebab dan kebiasaan, bahkan kebiasaan itu bisa menjadi sebab terhijabnya manusia dari Qudratnya Allah. Dan juga bisa menjadi fitnah, bagaikan awan yg menutupi sinar matahari keesaan Allah. Maka dari itu menurut ajaran thariqah, siapa yg terterikat/silau pada keramat maka dia terhina.

Seorang sahabat Sahl bin Abdullah ra. berkata: “Adakalanya jika saya wudhu’ tiba² air yg mengalir di tanganku menjadi lantakan emas dan perak.” Jawab Sahl: “Apakah engkau tidak mengerti bahwa anak kecil jika menangis dihibur dengan boneka/mainan supaya diam.”

Abu Nashr as-Sarraj berkata: “Saya bertanya kepada Hasan bin Salim: apakah arti kekeramatan, sedang mereka telah dimuliakan oleh Allah sehingga sanggup mengabaikan dunia dan meninggalkannya dengan suka rela, tetapi bagaimana lalu kemuliaan (keramat) batu berubah menjadi emas, apakah artinya itu?” Jawabnya: “Bukannya Allah memberikan karena kotornya, tetapi diberi untuk menjadikan hujjah mengalahkan bisikan hawa nafsu, yg selalu goncang kuatir tidak dapat rizki, sehingga oleh Allah diperlihatkan yg demikian, sehingga dapat berkata: Bahwa Allah yg dapat merubah batu menjadi emas, dapat mendatangkan rizki dan memberi dari jalan yg tidak disangka.”

Ishaq bin Ahmad berkata pada Sahl: “Nafsuku ini selalu merasa kuatir tidak dapat makan.” Maka Sahl berkata: “Engkau ambil batu itu dan minta kepada Allah supaya dijadikan makanan untuk kau makan.”

Ishaq bertanya: “Jika berbuat demikian, maka siapa tauladan dalam berbuat demikian?” Jawab Sahl: “Bertauladanlah pada Nabi Ibrahim as. ketika berkata: “Wahai Tuhan, tunjukkan perlihatkan kepadaku bagaimana caranya Engkau menghidupkan sesuatu yg telah mati, supaya tentram hatiku, sebenarnya aku telah percaya tetapi nafsuku ini tidak puas, kecuali jika telah melihat dengan mata kepala.””

Seorang wali Ibrahim al-Khawwas pada suatu hari berkenalan dengan orang Yahudi di dalam kapal, keduanya membicarakan tentang agama, lalu Yahudi tadi berkata: “Kalau agamamu ini benar, berjalanlah diatas laut bersamaku.”

Lalu si Yahudi turun dari kapal dan berjalan diatas laut bersama dengan Ibrahim, sesampainya di daratan Yahudi berkata : “Aku ingin berteman dan bersamamu, tapi dengan syarat kita tidak boleh masuk masjid dan gereja, mari kita masuk ke hutan dan padang, tidak boleh bawa bekal.” Dan disanggupi oleh Ibrahim, lalu keduanya berjalan ke padang yg tidak ada tumbuhan dan tidak ada air sama sekali. Sampai tiga hari keduanya tidak makan dan minum, ketika keduanya duduk² tiba² ada anjing datang dengan menggigit roti tiga biji, dan ditaruh di depan Yahudi lalu anjingnya pergi, si Yahudi lalu makan roti tadi tanpa mengajak Ibrahim ikut makan, tidak berapa lama ada pemuda yg tampan dan berbau harum datang dengan membawa nampan yg dipenuhi dengan makanan dan minuman yg sangat enak dan lezat, dan ditaruh di depan Ibrahim lalu dia pergi. Lalu Ibrahim mengajak Yahudi untuk ikut makan, tapi Yahudi tidak mau karena malu, akhirnya Allah memberi hidayah kepada si Yahudi sehingga masuk Islam dan menjadi murid Ibrahim al-Khawwas.

Syaikh Abu Yazid al-Busthami qs berkata: “Kamu jangan sampai tertipu dengan keadaan yg luar biasa/tidak masuk akal, yg dialami seseorang, tapi lihatlah bagaimana taatnya pada perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.”

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Tidak setiap orang yg mendapatkan perkara luar biasa, seperti dapat mempersingkat perjalanan, terbang di udara, atau berjalan di atas air, sepenuhnya terbebas dari gejolak nafsu, dorongan syahwat, kesalahan, dan pelanggaran.

Syaikh Ibnu Atha’illah berkata, “Tidak semua orang yg mendapat karamah terbebas dari salah.” Bahkan mungkin, sebagian orang yg mendapatkan karamah itu tidak mampu istiqamah.”

Karamah sejati adalah sikap istiqamah yg dimiliki seseorang. Lain halnya dengan karamah yg berupa perkara² luar biasa yg kadang kala terjadi pada orang yg tidak beristiqamah dengan sempurna. Bahkan, karamah seperti ini banyak terjadi pada para pemula dan tidak tampak pada orang yg sudah benar² istiqamah dan tawakkal. Sekalipun demikian, keduanya termasuk orang² yg dekat dengan Allah. Oleh karena itu, kita harus tetap menghormati mereka dan memuliakannya. Namun, ahli istiqamah lebih harus dimuliakan daripada ahli karamah. Wallaahu a’lam

Share via
Copy link
Powered by Social Snap