Est. Baca: 2 Menit

Pada lembar awal sebelum menjelaskan daftar isi buku The Hundred Steps, Sayyidina Shaykh Abdalqadir as-Sufi dalam huruf kapital menulis BUKU INI DITUJUKAN BAGI FUQARA dan mengutip sya’ir pertama Diwan Shaykh Abu Madyan al-Ghawth, semoga Allah meridhainya, tentang para faqir.

Hal ini dapat disimak di :
https://100langkah.com/blog/2020/09/11/mukadimah-kitab-the-hundred-steps/

Karena itu, kami yakin bahwa makna Fuqara (bentuk jamak dari Faqir) harus sungguh-sungguh dipahami dan menjadi landasan serta bekal yang amat penting bagi umumnya pembaca buku beliau ini dan khususnya bagi mereka yang berjalan kepada Rabb-nya. Bismillah.


LANGKAH KESEMBILAN – FAQIR

Wali dari Bahlil*) berkata: “Para faqir adalah sekumpulan duri”. Shaykh Abu Madyan berkata: “Kenikmatan hidup hanya jika berkumpul dengan para faqir merekalah para sultan, para tuan dan para pangeran”.

Sang faqir ialah dia yang telah berpaling dari kesia-siaan pencarian dunia ini dan telah melangkah pada pencarian atas al-Haqq, yaitu rahasia atas keberadaan dirinya sendiri. Syarat pertama bagi pencarian ini adalah dia harus berkumpul dengan khalayak yang juga ingin memperoleh ilmu ini. Untuk masuk ke kalangannya berarti harus disibukkan dengan berbagai kesulitan mereka dan ikut merasakan keriangan mereka. Awalnya sang faqir melihat kesalahan-kesalahan para faqir lainnya. Ketika ia menyadari bahwa mereka menyerupai sebuah cermin baginya, sebagaimana makna dalam sebuah hadist masyhur, maka ia berhenti bergumul dengan mereka lalu cinta mulai bersemi di hatinya kepada para pecinta Allah. Dengan cara inilah ia mendekati sang Shaykh.

Sangfaqir itu miskin kepada Allah, dan cukuplah Allah baginya dalam kemiskinannya.
Sang faqir telah memilih berperang atas ke-akuannya. Sehingga ia harus melangkah menuju bagian tersulit dalam perjalanannya. Bahkan keberhasilan di sini membahayakan, karena kepuasan memperolehi perilaku baik adalah sebuah kekeliruan. Tak bisa dihindari. Ia harus membongkar kaidah-kaidah ruhani, seperti apa yang telah dilakukannya pada yang lahiriahnya.

Perilaku-perilaku salah hilang sudah. Mereka harus digantikan perilaku-perilaku saleh. Demikian pula dengan niat-niatnya. Si faqir tetap harus berjaga dari mengira bahwa tujuannya adalah etika. Jangan lepaskan tatapan dari tujuannya yaitu penyaksian langsung Rabb Yang Maha Hidup.


Catatan :

*) Nama lengkap Wali dari Bahlil adalah Muhammad ibn Ali rahimahullah. Beliau salah seorang murid dan fuqara Sayyidina Shaykh Muhammad ibn al-Habib rahimahullah.

Beliau juga termasuk salah seorang murid yang mengkonfirmasi Shaykh Abdalqadir as-Sufi sebagai seorang Shaykh dan penerus Sayyidina Shaykh Muhammad ibn al-Habib rahimahullah. Alhamdulillah wa shukrulillah.

Sekitar tahun 1980-an rombongan murid dan fuqara Sayyidina Shaykh Abdalqadir as-Sufi, semoga kita memperoleh keuntungan darinya, sowan kepada Sidi Muhammad ibn Ali. Pada akhir pertemuan tersebut beliau mendoakan para murid dan fuqara yang hadir dengan menyebut nama negeri asal mereka: Inggris, Spanyol, Jerman, Malaysia, dan lain-lain.
Lalu yang mengejutkan para fuqara itu, beliau juga menyebut Indonesia! Padahal pada saat itu belum ada satu pun fuqara dan murid asal Indonesia. Fuqara dan murid dari Indonesia baru ada dan hadir di tahun 1999. Demikianlah, betapa waskitanya para wali Allah.

Sumber: 100 Langkah

Share via
Copy link
Powered by Social Snap