Sifat kelima yang mesti ada pada Allah Ta’ala adalah Qiyamuhu binafsihi (berdiri sendiri). Artinya, Allah Ta’ala tidak membutuhkan tempat atau dzat untuk mengada, tidak pula membutuhkan sesuatu pun untuk menegaskan keberadaan-Nya. Kebalikannya adalah Ihliyajuhu ila dzatin aw murajjahin (butuh terhadap dzat atau sesuatu yang mewujudkan). Dalil aqli yang menunjukkan kenyataan bahwa Allah Ta’ala mandiri adalah, seandainya Allah butuh tempat, berarti Allah adalah sifat. Sementara sifat tidak bisa disifati dengan sifat-sifat. Dan Allah sudah jelas disifati dengan sifat Qudrah (Kuasa), Iradah (Berkehendak) dan lainnya. Kemudian bila Allah butuh pada sesuatu yang membuatnya mengada, berarti Allah baru, dan ini sungguh keliru, karena Allah Ta’ala bersifat Qidam.

Adapun dalil naqli yang menunjukkan kemestian Allah Ta’ala bersifat Mandiri adalah firman Allah Ta’ala, “Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”(QS. Al-Ankabut 29:6). Allah Ta’ala juga berfirman, “Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji).”(QS. Fathir 35:15)

Sebagaimana Allah tidak butuh terhadap tempat, Dia juga tidak membutuhkan segala bentuk kemanfaatan, tidak pula tujuan di dalam semua perbuatan dan ketetapan-Nya. Benar bahwa perbuatan dan ketetapan Allah mengadung berbagai hikmah dan kemaslahatan, tetapi manfaat semua hikmah dan kemaslahatan itu bagi makhluk, sebagai kemurahan dan kebaikan Allah kepada makhluk-Nya. Bukan berarti bahwa hikmah dan kemaslahatan itu bermanfaat bagi Allah Ta’ala. Ketaatan kita sama sekali tidak bermanfaat bagi Allah. Demikian juga maksiat kita tidak membahayakan Allah. Perintah dan larangan yang Allah gariskan kepada kita, manfaat dan bahayanya akan kembali kepada kita juga.

Allah sama sekali tidak membutuhkan manfaat dari semua perintah dan larangan-Nya terhadap kita. Betapa tidak, Allah sungguh tidak membutuhkan sesuatu pun dari makhluk. Ada banyak sekali kesaksian yang menunjukkan hal ini di dalam Alqur’an dan sunnah. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala, “Barangsiapa yang mengerjakan amal yang salih maka pahalanya untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka dosanya atas dirinya sendiri.”(QS. Fushshilat 41:46). Allah Ta’ala berfirman, “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri..”(QS. Al-Isra’ 17:7), Allah Ta’ala berfirman, “Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sungguh Allah benar-benar Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”(QS. Al-‘Ankabut 29:6).

Allah sungguh Mahakaya dan tidak membutuhkan apa pun selain Dia. Dilihat dari sudut pandang akal, jika Allah membutuhkan manfaat dari ketaatan hamba-Nya, niscaya Allah hanya akan menciptakan ketaatan dan tidak menciptakan kemaksiatan. Jika tidak, berarti Allah tidak mampu menangkal sesuatu yang membahayakan-Nya, dan ini mustahil.

Kesimpulannya, Allah sungguh tidak membutuhkan seluruh bentuk kemanfaatan dari semua yang selain Diri-Nya. Dan Dialah yang menunjukkan makhluk yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.

Dikutip dari Kitab Tanwirul Qulub, karya Sayyidi Syaikh Muhammad Amin al-Kurdi (qs.)

Semoga bermanfaat.

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠﻰَ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪِ، ﺍﻟْﻔَﺎﺗِﺢِ ﻟِﻤَﺎ ﺃُﻏْﻠِﻖَ ﻭَﺍﻟْﺨَﺎﺗِﻢِ ﻟِﻤَﺎ ﺳَﺒَﻖَ، ﻧَﺎﺻِﺮِ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ، ﻭَﺍﻟْﻬَﺎﺩِﻱ ﺇِﻟَﻰ ﺻِﺮَﺍﻃِﻚَ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻘِﻴْﻢِ ﻭَﻋَﻠﻰَ ﺁﻟِﻪِ ﺣَﻖَّ ﻗَﺪْﺭِﻩِ ﻭَﻣِﻘْﺪَﺍﺭِﻩِ ﺍﻟﻌَﻈِﻴْﻢِ

Sufi Podcast dipersembahkan kepada Anda oleh Albali Studio.
Website: https://albalistudio.com/

source

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *