Dikutip dari Kitab Tanwirul Qulub, karya Sayyidi Syaikh Muhammad Amin al-Kurdi (qs.)

Kita wajib meyakini akan terjadinya as-sa’ah, yakni al-qiyamah (kiamat). Kiamat pasti terjadi setelah habisnya alam dunia. Kepastian akan terjadinya kiamat tidak perlu diragukan, dengan alasan firman Allah Ta’ala, ”Dan sesungguhnya Hari Kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.” [QS. al-Hajj 22:7]. Allah Ta’ala juga berfirman, ”Bahkan mereka mendustakan Hari Kiamat. Dan Kami menyediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan hari kiamat.” [QS. al-Furqan 25:11]

Kiamat terjadi diawali dengan an-nafkhah ats-tsaniyah (tiupan sangkala yang kedua) sampai manusia berada di dua tempat, surga dan neraka. Tidak ada yang mengetahui kapan kiamat akan terjadi selain Allah Ta’ala. Tetapi kiamat itu ada tanda-tandanya, tanda-tanda yang kecil (ash-shughra) dan tanda-tanda besar (al-kubra).

Ada banyak tanda-tanda kecil akan kedatangan kiamat. Di antaranya adalah kebangkitan Nabi Muhammad saw. dan umatnya, orang yang khianat dipercaya dan orang yang dipercaya khianat, bermegah-megahan dalam membangun rumah dan gedung, menghias masjid-masjid dengan kemewahan, semakin banyaknya kebodohan, sedikit ilmu, ramainya anak-anak, banyaknya perempuan dan sedikitnya laki-laki hingga lima puluh berbanding satu, maraknya perzinaan, minuman keras, riba, banyaknya pertentangan antara kaum muslimin karena provokasi musuh dan terjadinya paceklik. Itu semua diterangkan oleh banyak hadis Nabi Muhammad saw.

Tanda-tanda besar akan terjadinya kiamat ada sepuluh:

Satu, keluarnya Imam Mahdi. Dia adalah seorang lelaki agung keturunan Fathimah binti Rasulullah saw. Dia datang memenuhi bumi dengan kebaikan dan keadilan menggantikan kezaliman dan kemaksiatan yang sebelumnya memenuhi bumi.

Ar-Rauyani dan Abu Na’im meriwayatkan dari Khudzaifah bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Al-Mahdi adalah seorang lelaki dari keturunanku. Warna kulitnya warna kulit seorang Arab. Badannya seperti badan seorang keturunan Isra’il. Di pipi sebelah kanannya ada tahi lalat laksana bintang yang terang. Dia datang memenuhi bumi dengan keadilan menggantikan kemaksiatan yang telah memenuhinya. Penduduk bumi dan langit ridha akan kekhalifahannya, bahkan burung di udara pun demikian.”

Ahmad, Abu Dawud dan at-Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Dunia tidak akan lenyap, tidak pula akan berakhir sebelum diperintah oleh seorang lelaki dari ahli bait-ku, yang menjelajah bumi dan namanya adalah namaku.” Di dalam riwayat lain ditambahkan, “dan rupa lahirnya adalah rupa lahirku.”

Dua, kemunculan Dajjal di akhir zaman. Dengan kehadirannya Allah hendak menguji hamba-hamba-Nya. Allah memberi dia kemampuan dan kesanggupan untuk melakukan berbagai hal yang menakjubkan serta mengagumkan hati, sehingga banyak hamba yang terperdaya olehnya, kecuali hamba-hamba Allah yang telah ditetapkan akan beroleh kebahagian.

Tanda-tanda telah dekatnya masa kemunculan Dajjal adalah sedikitnya amar makruf nahi mungkar, terjadinya banyak pembunuhan, ulama condong kepada kezaliman dan mendekati penguasa. Dajjal muncul dari arah timur, dari salah satu dusun di wilayah Ishfahan. Bila dia berkata kepada awan, “Turunkan hujan!” dengan serta hujan akan turun. Saat dia memerintahkan agar hujan berhenti, hujan langsung berhenti. Dia tinggal di muka bumi selama empat puluh hari.

Di dalam hadis disebutkan, “Ya Rasulullah, berapa lama dia tinggal di muka bumi?” Rasulullah saw. menjawab, “Empat puluh hari. Satu hari pertamanya setara dengan satu tahun. Satu hari berikutnya setara dengan satu bulan, satu hari berikutnya setara dengan satu Jumat. Sisanya sama seperti hari-hari biasa.” Para sahabat bertanya, “Apakah pada satu hari yang setara dengan satu tahun itu kami cukup melakukan shalat sehari (yakni lima waktu)?” Rasulullah saw. menjawab, “Tidak. Setarakanlah ukurannya.”

Tiga, turunnya Nabi ‘Isa di atas Menara Hijau sebelah timur Damaskus. Saat turun, dia turun sambil meletakkan kedua telapak tangannya di sayap dua malaikat, pada waktu shalat subuh. Kemudian orang-orang mengundangnya untuk shalat mengimami mereka, namun dia tidak mau. Dia berkata, “Imamnya dari kalian.” Lalu al-Mahdi maju dan shalat mengimami Nabi ‘Isa dan mereka. Ini merupakan pemuliaan bagi umat ini dan nabinya (Muhammad saw.).

Semoga bermanfaat.

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠﻰَ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪِ، ﺍﻟْﻔَﺎﺗِﺢِ ﻟِﻤَﺎ ﺃُﻏْﻠِﻖَ ﻭَﺍﻟْﺨَﺎﺗِﻢِ ﻟِﻤَﺎ ﺳَﺒَﻖَ، ﻧَﺎﺻِﺮِ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ، ﻭَﺍﻟْﻬَﺎﺩِﻱ ﺇِﻟَﻰ ﺻِﺮَﺍﻃِﻚَ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻘِﻴْﻢِ ﻭَﻋَﻠﻰَ ﺁﻟِﻪِ ﺣَﻖَّ ﻗَﺪْﺭِﻩِ ﻭَﻣِﻘْﺪَﺍﺭِﻩِ ﺍﻟﻌَﻈِﻴْﻢِ

Sufi Podcast dipersembahkan kepada Anda oleh Albali Studio.
Website: https://albalistudio.com/

source

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *